Pengolahan Air Limbah Penyulingan Minyak

 

 

image001

 

Konsep pengolahan air limbah penyulingan minyak

Air limbah penyulingan minyak dihasilkan dari berbagai proses di dalam kilang, termasuk pengolahan minyak mentah, desalting, distilasi, dan perengkahan katalitik. Air limbah mengandung berbagai polutan seperti hidrokarbon, padatan tersuspensi, logam berat, sulfida, fenol, dan senyawa organik lainnya, yang dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan jika tidak diolah dengan baik.
Tujuan dari pengolahan air limbah penyulingan minyak adalah untuk menghilangkan kontaminan berbahaya untuk memenuhi batas pembuangan peraturan, mencegah kerusakan lingkungan, dan mendaur ulang air jika memungkinkan. Kombinasi metode pengolahan fisik, kimia, dan biologis biasanya digunakan untuk menangani sifat kompleks air limbah.

 

 

Karakteristik pengolahan air limbah penyulingan minyak

1. Kandungan Organik Tinggi: Air limbah penyulingan minyak sering kali mengandung hidrokarbon terlarut dan terdispersi dalam jumlah tinggi, seperti benzena, toluena, dan xilena, yang berkontribusi terhadap Permintaan Oksigen Kimia (COD) dan Permintaan Oksigen Biokimia (BOD) yang tinggi.
2. Adanya Senyawa Beracun: Air limbah mengandung senyawa organik beracun seperti fenol dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), serta logam berat (misalnya merkuri, timbal, dan kadmium), yang dapat membahayakan proses pengolahan biologis.

3. Padatan Tersuspensi Tinggi: Karena adanya lumpur, padatan tersuspensi, dan minyak teremulsi, sistem pengolahan perlu mengatasi pemisahan fisik padatan tersebut dan penguraian polutan terlarut.

4. Fluktuasi Komposisi: Karakteristik air limbah dapat sangat bervariasi berdasarkan operasi kilang, sehingga memerlukan sistem pengolahan yang dapat beradaptasi yang dapat menangani variasi pH, salinitas, dan konsentrasi kontaminan.

5. Daya hancur secara hayati yang rendah: Banyak senyawa dalam air limbah kilang minyak sulit terurai, sehingga pengolahan secara biologis menjadi lebih menantang dibandingkan dengan air limbah konvensional.

image003

 

image005

 

Karakteristik proses pengolahan air limbah penyulingan minyak

1. Pengolahan Primer: Langkah pertama sering kali melibatkan metode fisik seperti pemisah minyak-air (misalnya pemisah API), flotasi udara terlarut (DAF), dan tangki sedimentasi untuk menghilangkan minyak bebas, padatan tersuspensi, dan beberapa logam berat.
2. Pengolahan Sekunder (Pengolahan Biologis): Di sinilah peran Reaktor Biofilm Lapisan Bergerak (MBBR) atau proses lumpur aktif. MBBR, khususnya, dapat menangani beban organik yang tinggi, tahan terhadap guncangan beracun, dan membutuhkan lebih sedikit ruang dibandingkan sistem konvensional. Ia menggunakan media plastik berlapis biofilm untuk menguraikan polutan organik, mengubahnya menjadi karbon dioksida dan air.

3. Perlakuan Tersier: Metode lanjutan seperti filtrasi membran (misalnya ultrafiltrasi, osmosis balik), oksidasi kimia, dan adsorpsi karbon aktif digunakan untuk menghilangkan sisa kontaminan terlarut, terutama bahan organik bandel dan logam sisa.

4. Penanganan Lumpur: Kilang menghasilkan lumpur dalam jumlah besar, yang harus distabilkan dan dibuang dengan aman. Dewatering, pengentalan, dan pembakaran adalah metode pengolahan lumpur yang umum.

 

 

Persyaratan Khusus Media MBBR Saat Digunakan dalam Tangki Aerasi Biologis untuk Pengolahan Air Limbah Penyulingan Minyak

1. Luas Permukaan Tinggi: Media MBBR yang digunakan dalam pengolahan air limbah penyulingan minyak harus menyediakan luas permukaan yang besar untuk pelekatan biofilm guna mengoptimalkan aktivitas mikroba dan degradasi polutan. Media harus mendukung pertumbuhan mikroorganisme khusus yang mampu memecah hidrokarbon dan bahan organik kompleks lainnya.

2. Ketahanan terhadap Pengotoran: Karena kandungan minyak dan padatan tersuspensi yang tinggi, media harus tahan terhadap pengotoran dan penyumbatan. Hal ini memastikan bahwa biofilm tetap aktif dan proses pengolahan efisien tanpa harus sering membersihkan atau mengganti media.

3. Daya Tahan dalam Kondisi Keras: Media harus tahan terhadap variasi pH, salinitas, dan suhu yang umum terjadi pada air limbah kilang minyak. Bahan yang kuat dan stabil secara kimia seperti polietilen densitas tinggi (HDPE) biasanya digunakan.

4. Aerasi yang Efektif: Media harus kompatibel dengan sistem aerasi dalam tangki biologis untuk memastikan transfer oksigen yang tepat, yang sangat penting bagi mikroorganisme aerobik yang menguraikan polutan. Media dengan dinamika aliran yang baik meningkatkan distribusi oksigen ke seluruh reaktor.

5. Kemampuan Beradaptasi terhadap Guncangan Beracun: Air limbah kilang minyak terkadang mengandung lonjakan senyawa beracun secara tiba-tiba. Media MBBR dan biofilm terkait harus tahan terhadap guncangan ini, menjaga aktivitas biologis bahkan di bawah tekanan.

image007

 

Kesimpulan

 

 

Pengolahan air limbah penyulingan minyak bersifat kompleks dan memerlukan kombinasi metode fisik, kimia, dan biologi untuk menghilangkan kontaminan seperti hidrokarbon, logam berat, dan senyawa beracun lainnya. Penggunaan teknologi MBBR pada tangki aerasi biologis menawarkan solusi efektif untuk menangani beban organik dan variabilitas air limbah kilang minyak. Namun keberhasilan sistem MBBR sangat bergantung pada karakteristik media yang digunakan. Media MBBR harus tahan terhadap pengotoran, tahan lama, memiliki luas permukaan yang tinggi, dan mendukung transfer oksigen yang efisien, sehingga cocok untuk kondisi pengolahan air limbah kilang minyak yang menantang.